Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
1. Perang antara tauhid dengan syirik telah terjadi sejak lama. Sejak zaman Nabi Nuh alaihis salam menyeru kaumnya untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada berhala-berhala.
Nabi Nuh berada di tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Beliau menyeru kaumnya kepada tauhid, tetapi mereka mengingkarinya. Secara jelas Al-Quran menggambarkan pengingkaran mereka, dalam firman-Nya,
“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Rabb-Rabb kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghust, Ya’uq dan Nasr.” Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia).” (Nuh: 23-24)
Tentang tafsir ayat ini, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata,
“Ini adalah nama-nama orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaumnya agar mereka membuat patung orang-orang saleh tersebut di halaqah (tempat-tempat berkumpul) mereka, dan agar memberinya nama sesuai dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukan perintah setan tersebut. Pada awalnya, patung-patung itu belum disembah. Sampai ketika mereka semua sudah binasa dan ilmu telah diangkat, mulailah patung-patung itu disembah oleh generasi setelah mereka.
2. Selanjutnya datanglah para rasul sesudah Nabi Nuh menyeru kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan agar meninggalkan apa yang mereka sembah selain Allah, sebab mereka tidak berhak untuk disembah. Renungkanlah Al-Quranul Karim yang menceritakan kepadamu tentang keadaan mereka,
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Rabb bagimu selain-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?” (Al-A’raaf: 65)
“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada bagimu sesembahan selain Dia.” (Huud: 61)
“Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada sesembahan bagimu selain Dia.” (Huud: 84)
“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Rabb yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (Az-Zukhruf: 26-27)
Kaum musyrikin merespon dakwah para nabi tersebut dengan penentangan dan pengingkaran terhadap apa yang mereka bawa. Dan orang-orang musyrik itu memerangi para rasul dengan segala kemampuan yang mereka miliki.
3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam misalnya, sebelum diutus sebagai rasul, beliau terkenal di kalangan orang-orang Arab dengan julukan “Ash-shaadiqul amiin” (yang jujur dan dapat dipercaya). Tetapi tatkala beliau mengajak kaumnya menyembah kepada Allah dan mengesakan-Nya, serta menyeru agar meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang mereka, serta merta mereka lupa dengan sifat jujur dan amanah beliau. Lalu mereka berkata -sebagaimana dikabarkan tentang perkataan mereka- “Ahli sihir lagi pendusta”. Al-Quran juga mengisahkan penolakan mereka terhadap dakwah tauhid ini dalam firman-Nya,
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak dusta. Mengapa ia menjadikan Rabb-Rabb itu Rabb Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shaad: 4-5)
“Demikianlah tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengata-kan. “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila”. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenar-nya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” (Adz-Dzaariyaat: 52-53)
Demikianlah sikap terhadap segenap rasul dalam dakwah mereka kepada tauhid. Dan sikap kaum mereka yang pendusta lagi mengada-mengada.
4. Pada zaman kita saat ini, jika seorang muslim mengajak sesama saudara muslim lainnya kepada akhlak, kejujuran dan amanah, ia tidak akan menemukan orang yang menentangnya.
Berbeda halnya jika ia mengajak mereka kepada tauhid yang para rasul menyeru kepadanya –doa (memohon) hanya semata-mata kepada Allah dan tidak memohon kepada selain-Nya, baik kepada para nabi atau wali, karena sesungguhnya mereka hanyalah hamba Allah–, niscaya orang-orang segera menentangnya dan menuduhnya dengan berbagai tuduhan dusta. Mereka akan menuduhnya Wahhabi, dengan maksud untuk menghalangi manusia dari dakwah kepada tauhid.
Jika sang dai mengetengahkan ayat yang didalamnya terdapat ajakan kepada tauhid, mereka tak segan-segan menuduh dengan mengatakan, “Ini ayat Wahhabi”. Manakala sang dai membawakan hadits:
وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Bila kamu memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan sahih)
Maka serta-merta sebagian mereka akan mengatakan, “Itu hadits Wahhabi.”
Bila seseorang shalat dengan meletakkan tangan di atas dada, atau menggerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sebagian orang akan menganggapnya sebagai Wahhabi.
Kata Wahhabi seakan menjadi simbol bagi setiap orang yang mengesakan Allah, yang hanya menyembah Rabb Yang Satu, dan mengikuti sunnah nabi-Nya.
Sesungguhnya Wahhabi adalah nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi). Ia adalah salah satu dari nama-nama Allah Yang Paling Baik. Berarti Dialah yang memberikan kepadanya tauhid, yang merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi orang-orang yang mengesakan Allah.
5. Bagi orang yang mendakwahkan tauhid hendaknya sabar dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang kepadanya Allah berfirman,
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Al-Muzammil: 10)
“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.” (Al-Insaan: 24)
6. Setiap orang Islam hendaknya menerima dakwah kepada tauhid serta mencintai pada dainya. Karena sesungguhnya tauhid adalah dakwah para rasul secara keseluruhan, juga dakwah Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka barangsiapa mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya dia akan mencintai dakwah kepada tauhid dan barangsiapa membenci dakwah tauhid, maka berarti ia telah membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
(Dari kitab Minhaj Firqatin Najiyah).